Beranda > Ilmu Psikologi, Jurnal Psikologi, Psikologi Anak > Dampak Buruk Film Mistik Bagi Psikologi Anak

Dampak Buruk Film Mistik Bagi Psikologi Anak

TENGOKLAH tayangan yang melintas bebas di layar televisi. Tayangan “sampah” sekalipun bisa dinikmati anak-anak dengan mudah. Salah satu tayangan yang berisiko tinggi bagi perkembangan mental anak adalah film horor.

Nyatanya, film horor memang dibuat untuk menakut-nakuti penontonnya. Saat penonton bisa berteriak histeris menyaksikan adegan berdarah, maka bertumpuklah pundi-pundi produser film itu.

Waspadalah, ketakutan yang dihasilkan film horor membekas selama bertahun-tahun dalam hidup seseorang. Penelitian National Institute of Mental Health di Amerika Serikat menyatakan, tayangan film horor berdampak buruk bagi perkembangan kejiwaan anak.

Rani Rajak I Noe’man selaku konselor dan psikolog anak dari Yayasan Kita dan Buah Hati membeberkan berbagai dampak film horor bagi anak, di antaranya:

Kepercayaan dan sistem nilai (belief dan value)

Anak yang terbiasa menonton film horor atau mistik akan menganggap apa yang mereka lihat adalah benar, tak bisa membedakan mana yang nyata dan rekaan semata. “Mereka menginternalisasikannya ke dalam belief system sehingga setelah dewasa percaya klenik,” jelas Rani saat ditemui dalam talkshow dan launch kampanye “Lindungi Keluarga” di Dome Cafe, Plaza Indonesia, Jakarta, Jumat (13/11/2009).

Perubahan perilaku

Contohnya, kecemasan, ketakutan berkepanjangan, dan mimpi buruk. Isi film horor sebagian besar adegan kekerasan dan kejahatan berdarah. Anak terobsesi menirunya yang cenderung membahayakan dirinya dan orang lain.

Dampak psikologis jangka panjang

Dampak ini mempengaruhi rasa percaya dirinya. Menurut Steve Wollin dalam buku “Resileince Self”, manusia lahir tanpa jati diri dan jati diri dibentuk dari pantulan ekspresi-ekspresi wajah yang dilihatnya. “Bila anak-anak selalu melihat ekspresi wajah marah atau menakutkan, maka mereka merasa diri tidak layak dicintai,” jelas Rani.

Dampak pada prestasi akademik, kurang tidur, dan rasa cemas berkepanjangan

Akibat yang ditimbulkan adalah menurunnya konsentrasi dan kemampuan mengendalikan diri hingga mereka tidak dapat belajar optimal.

Banyak langkah pintar yang bisa dilakukan orangtua untuk mencegah anak terkena dampak tayangan negatif, yaitu:

  1. Pahami status tontonan, misalnya status tayangan BO (Bimbingan Orangtua) untuk anak usia di atas 13 tahun sementara status DW untuk usia di atas 21 tahun.
  2. Pilihkan tayangan sesuai usia anak.
  3. Dampingi anak saat menonton, ingatkan atau bekali anak dengan pengetahuan tentang dampak buruk tontonan horor dan kekerasan.
  4. Diskusikan dengan anak-anak tentang tayangan yang membuat mereka tidak nyaman atau menakutkan. “Ibu bisa bilang, kalau ada tontonan yang buat kamu takut atau tidak bisa tidur, kamu bisa ceritakan pada ibu,” kata Rani mencontohkan.
  5. Ajak anak melakukan kegiatan yang bersifat fisik untuk menghindarkannya duduk pasif di depan layar televisi.

Lantas bagaimana kalau anak telanjur melihat tontonan tersebut? “Intinya komunikasi. Kemudian, orangtua jangan menampakkan ekspresi takut di depan anak saat mereka menakuti-nakuti. Ya, pura-pura berani,” tutur Rani.

Ditambahkannya, anak harus dibiasakan berpikir realistis dan logis agar level ketakutannya pada hal-hal mistis menurun. “Misalnya dengan mengatakan, setan itu memang ada, tapi tidak bisa kita lihat. Ibu juga tidak bisa lihat. Dan setan memang bertugas menggoda manusia untuk berbuat tidak baik,” tukas Rani.

Turunkan pula level ketakutan anak dengan menjadikan diri Anda cermin pengalamannya. “Misalnya dengan mengatakan, sampai saat ini saja ibu pernah lihat hantu,” tutup Rani.

Oleh : Dewi Arta

Artikel yang berkaitan :

About these ads
  1. 25 Maret 2010 pukul 18:52 | #1

    Harusnya membenahi darimana iah?? lembaga sensor juga diam saja tuch….

    • 25 Maret 2010 pukul 22:25 | #2

      menurut saya sih peran orang tua disini lebih penting, kontrol orang tua terhadap perilaku dan kegiatan anak-anaknya, saya yakin seminimal mungkin hal itu bisa ditekan….

  2. 21 Juni 2010 pukul 08:46 | #3

    Memang benar dampak pengaruh buruk film mistik dan bentuk film-film yang non education berdampak bagi perkembangan mental seorang anak. Saat ini banyak tayangan film atau pun sinetron yang tidak bermutu muatannya. Seperti halnya tayangan/film mistik yang ditonton oleh anak-anak. Hal disini penting yang perlu diperhatikan bagaimana sikap orang tua dalam memantuau apa yang dilakukan, dilihat, didengar oleh anak-anak melalui media-media siaran saat ini. Orang tua jangan pernah lengah atau membiarkan anak mereka menonton tv yang tidak baik untuk usia mereka. Perlu pendampingan dan membimbing untuk membekali pengetahuan apa dampak dari film yang ditayangkan di tv. Pengaruh media siaran yang menayangkan adegan kekerasan dan horor sangat mempengaruhi mental anak dan cenderung akan berperilaku terhadap model/contoh yang dia lihat daripada model orang tua sendiri. Diusahakan para orang tua menjadi role model yang baik tentunya dan memberitahukan bahwa model/contoh pada tayangan tersebut(red : horor,mistik, kekerasan) tidak baik. Apa yang dia lihat,dengar dari model/contoh mulai terekam saat dia berumur baduta dan akan berdampak dengan perkembangan mental yang dia bentuk di kemudian hari.

  3. 21 Juni 2010 pukul 09:36 | #4

    Masa anak merupakan masa yang indah,sebaiknya anak dihindarkan dari film-film mistik yang akan mengganggu keadaan psikologisnya. Arahkan anak agar menonoton sesuai dengan usianya. dalam setiap menonoton pu perlu pengarahan yang baik dari orang dewasa.

  4. laras
    24 Oktober 2011 pukul 17:12 | #5

    selain horor/mistik sekarang jg banyak sinetron yang ga bermutu ,isinya hanya iri dengki ,kejahatan ,berantem trus,saling memaki …..mo jd apa anak bangsa ini ,tiap saat diberi tontonan spt itu….sunguh mengenaskan nasib anak 2 kita….

  5. fitri
    10 Maret 2012 pukul 12:54 | #6

    tapi ak gk takut kok hehehehe

  6. dfbgdfg
    22 Agustus 2012 pukul 22:03 | #7

    biasa aj kale

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 938 pengikut lainnya.